SMA NEGERI 2 KOTA KEDIRI

Sekolah Favorit di Kota Kediri, Alumninya tersebar di pucuk pimpinan Indonesia

MAN KEDIRI II KOTA KEDIRI

Sekolah agama favorit di kota kediri bercirikan live skill

Monumen Gumul Kediri

Tempat Wisata Kabupaten Kediri yang indah dan menarik

Peta Kota Kediri

Kediri terletak antara kabupaten Jombang, Blitar, Tulung Agung dan Nganjuk

Wisata Gunung Klothok Kediri

Gua Selomangleng, Pemandian dan tempat bermain anak-anak

Jumat, 20 September 2013

TAMAN SAFARI: TRAVELING AND LEARNING


Liburan kali ini terasa berbeda. Caca dan kika yang kian tumbuh dan bertambah usia. Kini mereka tak lagi balita yang hanya suka merengek minta ini dan itu ketika berjalan-jalan bersama abah dan bundanya. Caca dan kika kini lebih mandiri dan apresiatif terhadap hal-hal yang ditemuinya. Termasuk ketika pada liburan ini kami mengajak mereka berjalan-jalan di Taman Safari, Bogor serta melihat Grand Prix Marching Band di Istora Senayan Jakarta.

Di Taman Safari, anak-anak terlihat bersemangat menemui hal-hal baru. Pengetahuan yang selama ini hanya didapat melalui buku atau televisi, kini langsung mereka saksikan dengan mata kepala sendiri. Dengan peta kecil di tangannya, kika tampak antusias seraya terus-menerus bertanya, kapan bisa bertemu zebra dan jerapah. Kika juga terlihat exited ketika melihat gigi-gigi kuda nil yang sebesar golok. Sementara caca tampak sesekali berceloteh tentang ensiklopedi yang pernah dibacanya terkait dengan beberapa binatang yang ditemuinya.

“Binatang-Binatang di sini lebih terawat dan sehat ya.. bu.” Demikian komentar caca sembari membandingkan dengan kondisi hewan-hewan di Kebun Binatang Ragunan yang pernah dikunjunginya pada liburan sebelumnya.

“Iya, kalo di Ragunan, jerapahnya lemes pingin maem, tapi nggak ada rumput.” Kika menimpali ujaran kakaknya.

Benar kata caca dan kika, aku sendiri merasakan hal berbeda melihat binatang-binatang di Taman Safari ini. Mereka memang tampak lebih sehat dan terawat. Apalagi jika dibandingkan dengan kondisi hewan-hewan di Ragunan. Hal ini mengingatkanku pada berita yang dimuat kompas beberapa bulan silam, yakni mengenai ditemukannya beberapa kilogram plastik di perut seekor jerapah yang diduga mati karena kelaparan. Jeparah yang menjadi bagian koleksi sebuah Kebun Binatang itu mati dengan kondisi yang sungguh mengenaskan. Mereka kurang makan sehingga terpaksa melahap plastik-plastik yang bertebaran di sekitar kandang mereka. Dan kondisi semacam ini agaknya sudah lazim terjadi di beberapa kebun binatang yang dikelola oleh pemerintah. Harusnya kebun binatang memang tidak didirikan di pusat kota, tapi di daerah-daerah yang mudah dan murah mencari bahan makanan untuk mereka. Bogor agaknya lebih strategis mengingat alamnya yang dingin dengan hutan yang masih terjaga. Hewan-hewan –terutama herbivora- tentu akan sangat kerasan tinggal di sana. Sebab bahan makanan mereka telah disediakan oleh alam di sekelilingnya.

Selain berkeliling, caca dan kika tampak terkesima ketika mendapat kesempatan naik ke punggung gajah. Hewan yang berukuran jumbo itu bergerak lamban dengan belalai yang menjuntai. Banyak pengetahuan yang didapat selama liburan ini. Belajar sembari jalan-jalan agaknya lebih menyenangkan dan berkesan. Selamat bertemu pada liburan yang akan datang.

JEJAK PUTRI SEKARTAJI DI GOA SELOMANGKLENG



Selomangkleng adalah nama yang disematkan untuk sebuah ‘goa’ di kawasan gunung Klothok, Kediri, Jawa Timur. Tidak sebagaimana goa pada umumnya, yang posisinya berada di bawah tanah dan memiliki stalakmit dan stalaktit serta terdapat genangan air atau sungai di bawahnya, Selomangkleng justru lebih mirip bilik yang dibuat dalam sebuah ceruk batu raksasa. Konon, ‘goa’ ini merupakan tempat pertapaan putri Sekartaji setelah ia memutuskan menolak tahta kerajaan Kediri dan memilih ‘mandeg pandito’.

Terdapat dua versi mengenai putri Sekartaji dan motivasinya untuk mengasingkan diri, bertapa di sebuah goa di lereng gunung Klothok itu. Versi pertama menyatakan bahwa, putri yang elok itu memutuskan menyepi setelah menolak lamaran seorang raja dari negeri seberang. Penolakan sang putri disebabkan raja yang menginginkan dirinya itu memiliki wajah dan perangai buruk. Dalam kisah yang diceritakan kembali melalui dongeng kanak-kanak, raja yang berwajah dan berperangai buruk itu disebut sebagai Butho. Konon, sang putri membuat siasat agar sang pelamar tidak pernah sampai di Kediri. Sedangkan versi kedua menyatakan bahwa, sang putri memilih jalan sepi karena menganggap bahwa jalan semedi akan lebih membawa kebaikan bagi kerajaan Kediri dibanding jika ia naik tahta.

Kini, kawasan gunung Klothok tidak lagi sepi seperti saat Sekartaji bersemedi di sana. Gunung klothok kini ramai dikunjungi oleh orang-orang Kediri dan sekitarnya. Selain goa Selomangkleng, lereng gungung Klothok kini padat dengan pemukiman yang berdampingan dengan sebuah Universitas (Universitas Kadiri), museum, kolam renang dan kawasan wisata lainnya.

Setiap liburan, Caca dan Kika selalu saja merengek untuk pulang ke Kediri. Tak ada yang lebih menyenangkan selain bertemu sanak-sodara dan berjalan-jalan bersama. Demikian pula dengan liburan akhir tahun kemarin. Sesaat setelah pulang dari Taman Safari, kembali Caca dan Kika menagih, “Kapan kita ke Kediri? Ketemu bulek Nila, kak Wafa, dek Shenly dan dek Hilwa? Trus jalan-jalan ke gunung klothok?”

MBAH KAKUNG GERAH

Caca dan kika bersedih. Terbilang telah genap seminggu mbah kakung dirawat di rumah sakit Kariadi, Semarang. Biasanya setiap hendak berangkat ke sekolah, caca dan kika selalu sowan mbah kakung terlebih dahulu. Setiap pagi pula mbah kakung akan menyambut kedua cucunya itu dengan senyum mengembang, sebelum kemudian memberikan beberapa koin lima ratusan sebagai uang saku sekolah untuk keduanya.

Selain pagi ketika hendak berangkat sekolah, caca dan kika sowan mbah kakung setiap usai ngaji al Quran ba'da maghrib. Sowan mbah kakung selalu menjadi waktu yang menyenangkan. Mbah kakung gemar mendengarkan cerita caca dan kika. Mbah kakung juga selalu terlihat antusias setiapkali caca dan kika menunjukkan karyanya. Meski kadang karya dua bocah itu hanya berupa gambar atau mainan remeh temeh. Antusiasme mbah kakung terhadap cerita atau karya dua gadis kecil ini rupanya menjadi support tersendiri untuk mereka. "ini bagus. semua karya itu bagus, yang tidak bagus itu yang tidak berkarya." Ujar mbah kakung seraya memegang mainan, tulisan atau gambar yang ditunjukkan oleh caca kika. biasanya mbah kakung duduk di kursi goyang di ruang tengah. sementara kami duduk mengitari beliau. selalu ada hal menarik yang kami bicarakan pada saat-saat seperti itu.

Waktu istimewa bagi caca dan kika adalah malam jum'at. karena libur ngaji, malam jum'at menjadi malam yang agak panjang bagi caca dan kika untuk bisa bergurau dan bercengkerama dengan mbah kakungnya. malam jum'at juga biasa kami gunakan untuk makan malam bersama. meski dengan menu sederhana, di ruang makan yang sederhana pula, namun kebersamaan itulah yang menjadikan makan malam itu menjadi istimewa.

Sejak mbah kakung opname, terhitung tiga hari caca dan kika ikut menungui di rumah sakit, meski harus izin sekolah. kehadiran caca kika agaknya juga cukup berarti bagi mbah kakung. Cerita dan polah kedusnya mampu membuat mbah kakung tersenyum diantara selang infus dan oksigen yang mengitarinya. Doa kami untuk mbah kakung. Semoga beliau diberi kesehatan dan kekuatan. Rindu kami mendengar nasihat dan ilmu dari panjengan.

GUNUNG KLOTOK (Kabupaten Kediri)

Indonesia / Jawa Timur / Kediri / Kabupaten Kediri / kec mojoroto kota kediri
 mountain

Rahasia Pertapaan Dewi Kilisuci di Gunung Klotok


mbah subowo bin sukaris

Goa batu alam pertapaan Dewi Kilisuci yang berada di Gunung Klotok berukuran sekitar 3x4 meter persegi, di bagian dalam goa terdapat prasasti huruf Palawa yakni pada bagian dinding bawah. Goa batu hasil pahatan tangan nenek moyang itu oleh penduduk setempat mendapat julukan Goa Selo Bale, artinya kurang-lebih bangunan tempat tinggal. Goa inilah pusat perhatian di masa pemerintahan Baginda Erlangga 1035-an sewaktu beliau yang sudah sepuh memutuskan turun takhta dan menjadi pertapa di lereng gunung Penanggungan. Sedangkan Putri Mahkota pewaris kerajaan Dewi Kilisuci yang seharusnya menaiki singgasana karena menderita penyakit kedhi alias tidak pernah mengalami menstruasi -- sehingga kemudian dianggap wanita suci pepunden tanah jawi -- akhirnya juga ikutan bertapa mendaki Gunung Klotok.
Babat Kadhiri menyebut sekilas mengenai perilaku orang Kediri yang meniru-niru laku Dewi Kilisuci, akan tetapi sayangnya meniru dalam fasal adigang, adigung, dan adiguna, baik kaum wanitanya maupun kaum prianya. Konon terdapat kutukan pada kerajaan Kediri tatkala terlibat dalam peperangan dengan musuh sebagai berikut, "Jika pasukan Kediri menyerang musuh di daerah lawan lebih dulu akan selalu memenangkan pertempuran, akan tetapi sebaliknya jika musuh langsung menyerang ke pusat kerajaan Kediri lebih dulu maka musuh itu akan selalu berhasil memperoleh kemenangan yang gemilang." Barangkali karena kutukan itulah konon para presiden Republik Indonesia selalu menghindari untuk singgah ke kota Kediri dalam setiap perjalanan di wilayah Jawa Timur. Mungkin tatkala sedang singgah di kota Kediri mereka beranggapan akan mudah diserang oleh musuh atau lawan politiknya.
Berkaitan turun takhtanya Sri Baginda Erlangga atau Airlangga sejarah kemudian mencatat atas perintah baginda maka kerajaan dibagi dua oleh Mpu Bharada, dan masing-masing bagian kerajaan, Daha dan Jenggala, dipimpin oleh putra dari selir Erlangga.
Sebuah pengalaman singkat mengunjungi situs pertapaan Dewi Kilisuci pada 1990-an selama beberapa minggu, maka siapa pun yang beruntung tatkala mengunjungi goa batu alami di punggung gunung Klotok sebelah Timur segaris lurus dengan Goa Selomangleng akan menjumpai seorang pertapa sepuh berusia delapan puluhan. Tampilannya biasa saja seperti petani, ia tidak mengenakan apapun selain celana panjang dan baju safari, pakaiannya itu pun tampak sudah tua. Ia seorang diri berada di tengah hutan belantara Klotok yang masih cukup lebat di masa itu. Air terjun di mulut goa tak henti mengalirkan air jernih dari sumber mata air berupa bebatuan cadas di punggung gunung itu.
Pertapa itu berambut putih, bertubuh langsing, wajahnya tampak berseri-seri. Ia tidak banyak bicara apalagi jika tidak ditanya oleh orang yang beruntung dapat menjumpainya di goa Selobale tersebut.
"Bapak tinggal sendirian di sini sedang melakukan apa?"
"Saya hanya menjaga tempat ini atas dawuh susuhunan kraton Solo. Karena kami dari kraton Solo menganggap di sinilah tempat pertapaan Dewi Kilisuci yang sebenarnya, dan bukan di Goa Mangleng di bawah sana maupun di tempat lainnya, Selomangleng itu hanya sebuah museum belaka," katanya penuh keyakinan. "Kami dari kraton Solo juga percaya bahwa leluhur kami berasal dari wilayah ini (dari Kediri, Jawa Timur)." Ia tidak menjelaskan lebih lanjut tugas yang diembannya dan juga alasan mengapa goa itu harus dijaga saat ini. Selanjutnya ia mengalihkan pembicaraan pada bangunan di luar goa, tepatnya di mulut goa terdapat jurang dan di seberang jurang yang menganga berukuran tiga meter lebar itu terdapat lubang goa mini berukuran satu meter persegi. Mengenai sedikit hipotesis mengenai misteri goa Selo Mangleng yang belum pernah dipublikasikan baca tulisan kami yang lain di blog ini berjudul, "Rahasia Kraton Sri Aji Joyoboyo".
"Di tiga ceruk/cekungan dinding gunung berupa batu cadas itulah para prajurit kerajaan Kediri bertugas menjaga keamanan dan mudah mengawasi tempat ini," ujarnya. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut pengetahuannya yang mendalam mengenai goa selobale. Barangkali ia tengah mengadakan studi mengenai situs goa selobale dengan cara spiritual.
Memang jika kita tengah berdiri di goa selobale maka samar-samar tampak di seberang air terjun mini tampak pada dinding bukit batu yang kemiringannya 90 derajat atau tegak lurus itu terdapat goa-goa berjumlah tiga yang jaraknya satu sama lain teratur simetris dan berukuran satu meter persegi.
"Tempat ini dulu tidak seperti ini, Ada jalan penghubung antara penjaga di seberang dan goa Selo Bale ini. Wilayah ini sekarang dikuasai pihak militer dan dijadikan ajang latihan perang-perangan menggunakan amunisi sungguhan. Mortir atau meriam biasa digunakan jika sedang masa latihan pada tahun 70-an. Dan senapan serbu laras panjang tidak terhitung lagi jumlah pelurunya yang berhamburan di sekitar goa ini."
Memang benar semua itu, penduduk di kawasan ini sudah tahu hal itu dan menganggap sebagai hal biasa. Memang tidak ada unsur kesengajaan dari militer untuk merusak situs itu, akan tetapi situs itu secara tak langsung terkena dampak buruknya.
"Goa Selo Bale inilah yang benar-benar jadi tempat pertapaan putri Erlangga itu, bukan di Goa Selo Mangleng, itu hanya museum semata-mata," ujar lelaki tua mengulangi apa yang sudah dikatakannya belum beberapa bentar, kembali suaranya terdengar mantap dan meyakinkan.
"Dulu tempat ini tidak sedalam ini, hanya sampai sebatas sini," katanya menunjuk lantai goa. "Orang-orang yang mencari harta-karun mencoba menggali dinding ini hingga bertambah sekitar setengah meter. Tampaknya tidak berhasil mendapatkan apapun."
"Sampai sekarang orang belum berhasil menemukan peninggalan heboh kerajaan Kediri. Mungkin berada di balik bukit ini!" katanya serius, sambil menunjuk suatu sudut punggung gunung. Jika kita berjalan melingkari bukit dan tiba di balik bukit itu memang terdapat air terjun kecil, Tretes. Dan di seberang sana sebelah selatan terdapat daerah dengan julukan Gemblung, bila orang berjalan di atas daerah itu seolah ada suara dari dasar tanah berbunyi "bung, bung, bung." Mungkin ada semacam ruang bawah tanah berukuran besar.
Di balik bukit sebelah timur terdapat sumber air suci Gunung Klotok, tempat itu terkenal dengan sebutan Sumber Loh, karena di hulu aliran air yang lumayan deras itu kebetulan terdapat sebatang pohon Lo berukuran raksasa, dan dari lobang-lobang di sekitar akar pohon itulah awal mula mata air yang terus memancar sepanjang masa, tak kenal musim, dan tak kenal jaman.
Tahun berganti tahun berlalu di Goa Selobale, dan kini keadaan telah berubah, jika orang tersasar atau sedang mendaki gunung Klotok dan tiba di tempat itu akan menjumpai kembali goa tersembunyi itu sunyi seperti sediakala. Tidak seorang pun berada di sana untuk dapat diajak bicara, kecuali suara serangga yang berdengung siang-malam. Kesunyian itu juga melanda sebuah goa misteri yang lain lagi berada di balik bukit tempat goa Selobale bertengger, goa yang lain itu disebut "Goa Kikik", arti harfiahnya kurang lebih goa mini. Barangsiapa mencoba melacak keberadaan goa yang satu itu akan kesulitan menemuinya karena tiada bedanya dengan bongkahan batu biasa yang bertebaran di sekitar lokasi goa Kikik. Akan tetapi perlu diketahui bahwa goa Kikik memang goa asli pahatan tangan nenek-moyang di masa silam. Di masa silam Goa Kikik menjadi salah satu garis pertahanan lain dari arena perbukitan itu untuk mengawasi dan memapak pendatang pada masa silam dari jurusan barat laut yang sedang mengarah ke Goa Selo Bale dengan niatnya masing-masing.

PENGETAHUAN : Jayabaya : Sekelumit Sejarah dan Cerita Rakyat

18 Oktober 2011 pukul 21:04
Nama Jayabaya sangat populer tidak hanya dikalangan orang tradisional Jawa, tetapi juga bagi orang Indonesia umumnya, dikarenakan adanya ramalan kuno yang disebut Jangka Jayabaya, yang ramalannya seputar kemerdekaan Indonesia 1945 – benar.

Indonesia merdeka didahului dengan masuknya tentara Jepang selama 3,5 tahun dengan mengusir kolonialis Belanda yang telah bercokol lebih dari 3.5 abad dinegeri ini. Dengan tepat pula meramalkan siapa Ratu, maksudnya Pemimpin , Presiden pertama R.I dan bagaimana perjalanan perjuangannya. Ramalan yang sering disebut Pralambang Jayabaya ini berlaku sampai dengan tahun 2150-an.

Isi ramalan Jayabaya yang populer adalah :
1.    Ramalan tentang perjalanan negara di Nusantara/Indonesia.
2.    Sikap ratu/pemimpin yang baik yang seharusnya dilakukan dan sikap jelek  yang pantang dilakukan.
3.    Contoh perilaku ratu/pemimpin yang bisa jadi panutan.
4.    Sikap pamong/priyayi/birokrat dan tingkah laku manusia dimasyarakat pada saat tertentu..
5.    Gejolak alam, yaitu berbagai bencana alam termasuk wabah dan penyakit , perubahan iklim dan geologis/geografis.
6.    Watak dan tindakan manusia yang mempengaruhi kehidupan secara umum, keadaan negara dan perilaku alam.

Esensi pralambang Jayabaya mengandung nasehat yang bijak, bagaimana manusia  bisa hidup selamat sejahtera dengan berkah Tuhan. Tentu harus punya kesadaran yang tinggi, selalu berbuat baik terhadap sesama manusia, mahluk, bumi, alam dan menyadari kodratnya sebagai titah dari Sang Pencipta. Dengan berbudi luhur, manusia akan mengalami kehidupan di jaman Kalasuba,  yang serba baik,enak, makmur, tetapi kalau masih saja melanggar norma-norma baku kehidupan seperti moralitas, tata susila , maka masyarakat dan negeri ini akan berada pada jaman Kalabendu, yang serba nista, terpuruk, tidak karuan.Pada saat ini kita tidak mengupas ramalan ini, nanti pada kesempatan lain, karena masih banyak hal yang relevan, yang menarik untuk diketahui.

Siapa Jayabaya?

Tentang siapa sebenarnya Jayabaya, ada beberapa pendapat yang bergulir. Yang jelas, ada persamaan pendapat, beliau adalah Prabu Jayabaya, seorang raja dari Kerajaan Kediri di Jawa Timur .

Ada yang berpendapat , sesuai dokumen sejarah bahwa Prabu Jayabaya adalah salah seorang raja Kediri diabad ke XI, dimana pada masa itu seni sastra , tari dan musik gamelan berkembang pesat.

Sementara itu ada pendapat lain terutama dari kalangan kebatinan bahwa eksistensi Jayabaya adalah diabad ke IV di Kediri, Jawa Timur. Menurut sumber ini, Kediri adalah kerajaan pertama di Jawa. Dari sini berpindah ke Jawa Tengah di Mataram Kuno disekitar Borobudur, Prambanan, lalu pindah lagi ke Jawa Timur di Jenggala, Kediri dan sekitarnya selanjutnya ke Sigaluh, Jawa Barat, lalu pindah lagi ke Jawa Timur yaitu Majapahit. Lalu pindah ke Jawa Tengah , yaitu Demak, Pajang, Mataram, diikuti jaman penjajahan Belanda, Jepang dan Nusantara merdeka.

Sebenarnya, penduduk pulau Jawa sejak jaman kabuyutan (sebelum datangnya pengaruh Hindu yang memperkenalkan sistim kerajaan), baik yang tinggal di Jawa bagian barat, tengah maupun timur itu sama saja. Baru kemudian  dalam perkembangannya muncul suku-suku dan pembagian daerah kediaman suku. Sebenarnya asal mulanya satu sebagai orang Jawa, orang yang menempati pulau Jawa.

Penduduk selalu mengikuti ratunya yang memindahkan pusat kerajaan.  Pernah di Banten, Pasundan, Mataram, Kediri,Majapahit, penduduk mengikuti ratu membangun negeri. Maklum jumlah penduduk pulau Jawa pada saat itu sedikit sekali.  Bekas negeri/kerajaan yang ditinggalkan penghuninya ketempat lain, menjadi hutan kembali. Kalau ada raja atau kepala daerah yang kejam, akan ditinggal pergi oleh kawulanya dan mereka pindah ketempat lain yang lebih baik.

Watak mulia Jayabaya

Semua pihak berpendapat bahwa Prabu Jayabaya sangatlah bijak, kuat tirakatnya dalam mengemban tugas negara. Untuk memecahkan persoalan negara yang pelik, Sang Prabu disertai oleh Permaisuri, Ratu Pagedhongan, disertai puila oleh beberapa menteri terkait, melakukan perenungan di Padepokan Mamenang, memohon petunjuk Gusti, Tuhan.

Perenungan bisa berlangsung beberapa hari,  minggu, bisa juga sebulan, sampai mendapatkan jawaban/petunjuk dari Dewata Agung, mengenai langkah yang harus dilakukan demi kebaikan kawula dan negara.

Selama masa perenungan di Mamenang, Raja dan Ratu hanya menyantap sedikit kunyit dan temulawak (tiga buah sebesar jari telunjuk) dan minum secangkir air putih segar yang langsung diambil dari mata air, sehari cukup 2 atau  3 kali. Sedangkan para menteri hanya menyantap semangkok bubur jagung dan secangkir air putih setiap waktu makan.

Setelah mendapatkan jawaban/solusi , Raja dan rombongan kembali ke istana di Kediri.

Sabdo Pandito Ratu

Di istana diadakan Pasewakan Agung , rapat kerajaan yang dipimpin raja, dikesempatan tersebut raja mengumumkan kebijakan yang diambil kerajaan dan yang mesti dijalankan dan ditaati seluruh pejabat dan kawula.

Apa yang diputuskan dan telah diucapkan oleh raja didepan rapat itu, disebut Sabdo Pandito Ratu atau Sabdo Brahmono Rojo, harus diterima  dan dilaksanakan oleh semua pihak termasuk oleh raja sendiri. Jadi , seorang raja/pemimpin itu harus memenuhi janji dan apa yang diucapkan harus ditepati, tidak boleh mencla-mencle , cedera janji.

Ini adalah salah satu falsafah kepemimpinan Kejawen yang sudah dikenal sejak masa kuno.

Jayabaya versi Kebatinan

Jayabaya adalah Raja Kediri, sering diartikan sebagai kelahiran manusia pertama di Jawa, adalah didaerah Kediri , Jawa Timur.
Didaerah ini ada dataran subur , suasananya nyaman untuk dihuni, namanya Pare, dari kata pari , beras, makanan pokok manusia.

Ini merupakan  gambaran keberadaan manusia yang lahir dibumi dengan terjamin, karena kondisi alam yang mendukung dan tersedianya makanan.  Raja Jayabaya sebelum turun ke mayapada, mewujudkan diri sebagai manusia yang hidup dibumi , adalah Raja Dewa dari kahyangan . sorga, domainnya para dewa-dewi. Raja Dewa itu bernama Wishnu, Raja Dewa kehidupan pelestari jagat.  (Sejak masuknya pengaruh Hindu, di Jawa mulai timbul negeri dengan sistim kerajaan, menggantikan “tata pemerintahan” asli yang berupa Kabuyutan , yang pemimpinnya Dewan Pinisepuh, orang-orang tua . Nama-nama Hindu mulai diadopsi, meskipun mereka adalah orang-orang Jawa asli).

Wishnu dari domainnya mengamati bumi dengan seksama, mencari tempat yang nyaman untuk dijadikan kerajaaannya. Dia merasa cocok untuk tinggal di Kediri.

Dewa yang ingin menjadi manusia bumi, harus memenuhi syarat-syaratnya. Seperti diketahui dewa itu tinggal di kahyangan, alamnya dewa, alamnya suksma, spirit, roh, tidak memakai badan fisik, karena berbadan sinar. Sedangkan untuk hidup di bumi, suksma harus “memakai pakaian” yang berujud badan fisik dan eteris atau istilah lokalnya badan kasar dan badan halus.

Badan fisik dan eteris itu berintikan elemen-elemen alam : api, udara, air dan tanah dan itu semua harus dalam keadaan sehat, dengan piranti-pirantinya yang bekerja canggih.

Suksma yang menyatu dengan raga , harus sinergis , semua sistimnya bekerja dengan sempurna, sehingga menjadi manusia hidup yang normal yang mampu berkiprah lahir bathin. Kalau penyatuan suksma dengan  raga tidak pas , tidak sempurna , ada yang “korsluit” maka yang mewujud adalah manusia cacat badan, pikiran atau mental.

Untuk terwujudnya/lahirnya manusia yang normal, persyaratannya adalah niat baik, yang diberkahi oleh Sang Suksma Agung, Pencipta Kehidupan. Juga persyaratan hidup dibumi harus dipenuhi sebaik-baiknya.

Manifestasi kehidupan suksma di bumi, lumrahnya dan pada masa kini adalah lewat kelahiran seorang bayi. Bayi yang sehat lahir-bathin yang dilahirkan dari gua garba ibu , setelah berhasil dibuahi bapak.

Sehingga  perlu adanya ibu–bapak yang sehat lahir bathin, ciptanya baik dan benar, menyatu dalam rasa dan raga , tumbuhlah janin.
Dengan sepengetahuan Sang Suksma Agung, Tuhan, suksma yang sesuai turun kebumi, mendapatkan pakaian baru berupa raga fisik dan eteris. Lahirlah seorang manusia baru dengan misi yang mesti dilaksanakan didunia.

Pada kenyataannya manusia adalah suksma,  spirit , roh yang berbadan raga  fisik dan eteris atau raga kasar dan halus. Suksma tidak akan rusak untuk selamanya, kalau badan rusak, suksma akan kembali ke asal-muasalnya keharibaan Sang Suksma Agung, Gusti, Tuhan.                      

Pemahaman manusia suksma ini jangan dibalik menjadi raga hidup yang bernyawa, seperti yang dianut sementara orang.  Akhirnya orang tersebut dalam hidupnya mengutamakan kepentingan raga, ingin selalu mengenakkan raganya sendiri, maka kelakuannya penuh nafsu : mau makan enak, kuasa, kaya duniawi yang egoistis. Mereka lupa kepada misi hidup pokok yang sebenarnya, dibumi malah saling gontok-gontokan dan berkelahi.

Suksma yang berhasil terlahir menjadi bayi, hidup sehat lahir bathin, itu telah melalui perjalanan perjuangan yang maha hebat. Dari beribu-ribu bahkan jutaan benih yang meluncur kegua garba ibu, hanya satu yang berhasil menjadi bayi. Inilah Suksma yang lulus jadi bayi, dia menang, Jaya, terlepas dari segala bahaya - baya dan menjadi bayi manusia - Jayabaya .

Oleh karena itu Jayabaya ada di Kediri, artinya suksma yang jaya hidup Ke dalam Diri-badan manusia..
Inilah pemahaman sejati mengenai terjadinya kehidupan manusia yang sudah sejak dulu merupakan ajaran Kejawen.

Legenda Kediri: Ringin Sirah (Ringin=Pohon Beringi; Sirah=Kepala)

9 November 2011 pukul 4:50
Bila kamu pernah mengunjungi Kota Kediri, pasti pernah melintasi kawasan Ringin Sirah. Kawasan ini terletak di pusat kota, persis di perempatan Jl. Hayam Wuruk - Jl. Joyoboyo. Tepatnya di sebelah selatan Kediri Mall/Sri Ratu. Di lokasi ini, terdapat sebuah lapangan yang cukup luas (kini, lapangan tersebut oleh warga Kota Kediri sering disebut Lapangan Joyoboyo), dan di lapangan itu terdapat pohon beringin dengan ukuran cukup besar (sampai sekarang ini pohon beringinnya masih ada dan bisa dilihat). Meski berada dipusat keramaian, persis di depan Joyoboyo Trade Centre, namun lapangan ini menyimpan sebuah misteri ,terkait legenda Ringin Sirah.

Bukan tanpa sebab kawasan itu bernama Ringin Sirah, karena menurut keyakinan turun-temurun warga kota maupun warga kabupaten Kediri, lapangan itu memang terkait erat dengan sebuah kisah tentang "sirah" atau kepala.

Menurut cerita "wong tuwo-tuwo mbiyen" (orang tua-tua dahulu), di lapangan itulah makam seorang tokoh legendaris Kediri berjuluk "Maling Gentiri". Maling Gentiri memang sosok maling budiman di zaman Kediri kuno. Maling Gentiri merupakan tokoh pencuri yang memiliki kesaktian "sundul langit" alias sakti mandraguna. Tapi karir Maling Gentiri dibidang mencuri, bukan semata-mata demi kepentingannya sendiri, melainkan hasilnya dibagikan pada warga miskin. Ia merampok harta orang kaya, lalu diberikan pada orang "kere" (miskin).

Tentunya kiprah Maling Gentiri ini disukai oleh orang miskin dan dibenci orang kaya (konglomerat) waktu itu. Para konglomerat berupaya sekuat tenaga menangkap hidup-hidup atau mati Maling Gentiri. Merekapun menjadikan Maling Gentiri sebagai buronan yang paling dicari. Akan tetapi kesaktian Maling Gentiri membuat para konglomerat itu "keder" (takut). Karena meskipun Maling Gentiri berkali-kali tertangkap, tidak pernah bisa dibunuh/mati. Maklumlah saja, Maling Gentiri memiliki aji pancasona, sebuah ilmu kadigdayan yang memungkinkan pemiliknya hidup kembali meski berkali-kali dibunuh, dengan syarat raganya tetap menyatu dan darahnya tidak menyentuh tanah.

Singkat cerita, para konglomerat yang ingin menamatkan riwayat Maling Gentiri, akhirnya menemukan titik kelemahan sang pendekar. Ketika Maling Gentiri tertangkap untuk kesekian kalinya, tubuh pencuri budiman itu lalu dipotong-potong dan dikubur terpisah di beberapa tempat untuk menghindari dia hidup kembali. Dan bagian kepalanya itulah, yang diyakini warga Kediri dikubur di kawasan Lapangan Joyoboyo dibawah pohon beringin. Sehingga kawasan ini disebut Ringinsirah. Ringin berarti Pohon Beringin, sedangkan Sirah adalah kepala manusia.

Sampai sekarang ini pun, kawasan itu masih dipercaya sebagai kawasan yang "wingit" (angker). Sehingga meski telah bersentuhan dengan suasana modern lingkungan sekitarnya, tetapi kawasan itu tetap dikeramatkan oleh sebagian warga Kediri dan menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka.

Iulah sedikit cerita Kediri kuno mengenai Ringin Sirah yang mulai asing bagi kita sebagai warga Kediri.

Kisah Pengkhianatan Cinta & Jalan Misterius di Gunung Kelud

detikTravel Community -  Gunung Kelud di Kediri, Jatim merupakan gunung berapi yang masih aktif. Selain 3 puncaknya, Gunung Kelud juga menyimpan kisah pengkhianatan cinta antara Putri Raja Kediri dengan Lembu Suro. Di kawasan ini juga ada jalan yang misterius!

Gunung ini berlokasi di antara Kabupaten Kediri, Blitar, dan Malang, Jawa Timur. Alkisah Gunung Kelud tak lepas dari sejarah yang terjadi pada masa Kerajaan Kadiri. Saat itu Putri Raja Kadiri, Dewi Kilisuci dilamar oleh 2 raja yang bukan dari bangsa manusia, yakni Lembu Suro dan Mahesa Suro. Namun, dengan segala tipu dayanya Dewi Kilisuci berhasil menghindari pinangan dari kedua raja tersebut.

Atas kegagalan dan tipu daya Dewi Kilisuci itulah, Lembu Suro sempat mengucapkan kutukan kepada orang Kadiri. "Yoh wong Kadiri, mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping, yoiku Kadiri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung," kutuk Lembu Suro.

Arti dari kutukan ini adalah "Ya, orang Kadiri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kadiri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan, dan Tulungagung menjadi danau." Itulah sepenggal cerita rakyat yang mendasari kalau letusan Gunung Kelud merupakan akibat amarah dari Lembu Suro.

Kawasan Wisata Gunung Kelud berada pada wilayah administratif Kabupaten Kediri. Udara di kawasan ini sangat sejuk karena berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Kelud tak hanya terkenal karena suguhan 3 puncak gunungnya, yaitu Puncak Gajah Mungkur di sisi barat, Puncak Kelud di sisi timur laut dan Puncak Sumbing di sisi selatan.

Bahkan, sebelum menuju gerbang wisata Gunung Kelud terdapat Mysterious Road yaitu jalanan yang bisa membuat kendaraan berjalan sendiri meski kita sudah menghentikannya. Penasaran?

Lebih dari itu, Kelud juga menawarkan wisata bertualang melintasi Terowongan Ampera. Dengan lampu seadanya, kita akan dibawa ke dalam nuansa mencekam sebelum akhirnya bisa menikmati indahnya pemandangan ilalang dan 3 puncak gunung sekaligus dalam satu landskap.

Masih kurang? Jajal kekuatan kaki Anda dengan mendaki sekitar 600-an anak tangga menuju puncak Gajah Mungkur. Dari sana Anda bisa menyaksikan sendiri pemandangan ciamik dari atas. Nikmati sejuknya udara dan pemandangan serba hijau di sekitar Anda. Setiap detil keunikan anak Gunung Kelud siap membuat Anda takjub. Apalagi jika disaksikan saat malam hari, anak Gunung Kelud seperti bermandikan cahaya lampu. Ini baru saja dibuka oleh Bupati Kediri.

Lelah setelah mendaki puncak Gajah Mungkur, sempatkan diri Anda untuk mengunjungi aliran air panas yang bisa mengobati rasa pegal dan kram di kaki. Namun, untuk mencapai ke sana Anda harus menuruni sebanyak 1.000 anak tangga. Dahsyat bukan.

Untuk mencapai kawasan wisata Gunung Kelud hanya ada satu jalur, yaitu melalui Kecamatan Ngacar, Kediri. Jalur ini berjarak sekitar 27 kilometer dari pusat Kota Kediri. Jalan mencapai kawasan wisata Gunung Kelud cukup mulus meskipun sempit. Sepanjang perjalanan, pengunjung dapat melihat pemandangan indah berupa ladang, lembah, dan bukit hijau. Pohon nanas adalah tanaman yang paling dominan di sepanjang perjalanan.

Untuk memasuki kawasan wisata, pengunjung akan dikenakan tarif sebesar Rp 8.000 pada hari biasa dan Rp 10.000 pada hari libur. Sedangkan tarif masuk kendaraan adalah sebesar Rp 1.000 untuk sepeda motor dan Rp 2.000 untuk mobil, harga yang ekonomis. Yuk, berkunjung ke Gunung kelud!

LEGENDA GUNUNG KELUD

LEGENDA GUNUNG KELUD DAN DEWI KILISUCI

12 Oktober 2011 pukul 0:55


GUNUNG Kelud menurut legendanya bukan berasal dari gundukan tanah meninggi secara alami. Seperti Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat,Gunung Kelud terbentuk dari sebuah
pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti mahesa Suro dan Lembu Suro. Kala itu, Dewi Kilisuci anak putri Jenggolo Manik yang terkenal akan
kecantikannya dilamar dua orang raja. Namun yang melamar bukan dari bangsa manusia, karena yang satu berkepala lembu bernama Raja Lembu Suro dan satunya lagu berkepala kerbau bernama Mahesa Suro.Untuk menolak lamaran tersebut,Dewi Kilisuci membuat sayembara yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa, yaitu membuat dua sumur di atas puncak gunung Kelud, yang satu harus berbau amis dan yang satunya harus berbau wangi dan harus selesai dalam satu malam atau sampai ayam berkokok.
Akhirnya dengan kesaktian Mahesa Suro dan Lembu Suro, sayembara tersebut disanggupi. Setelah berkerja
semalaman, kedua-duanya menang dalam sayembara. Tetapi Dewi Kilisuci masih belum mau diperistri. Kemudian Dewi Kilisuci mengajukan satu permintaan lagi. Yakni kedua raja tersebut harus membuktikan dahulu
bahwa kedua sumur tersebut benar benar berbau wangi dan amis dengan cara mereka berdua harus masuk ke
dalam sumur. Terpedaya oleh rayuan tersebut, keduanyapun masuk ke dalam sumur yang sangat dalam tersebut. Begitu mereka sudah berada di dalam sumur, lalu Dewi Kilisuci memerintahkan prajurit Jenggala untuk menimbun keduanya dengan batu. Maka matilah Mahesa Suro dan Lembu Suro. Tetapi sebelum mati Lembu Suro sempat bersumpah dengan mengatakan. ÓYoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yoiku. Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung.
(Ya, orang Kediri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar
akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau. Dari legenda ini akhirnya masyarakat lereng Gunung
kelud melakukan sesaji sebagai tolak balak supah itu yang disebut Larung Sesaji.

Acara ini digelar setahun sekali pada tanggal 23 bulan surau oleh masyakat Sugih Waras. Tapi khusus pelaksanaan tahun 2006 sengaja digebyarkan oleh Bupati Kediri untuk meningkatkan
pamor wisata daerahnya. Pelaksanaan acara ritual ini juga menjadi wahana promosi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan untuk datang ke Kediri. Bagaimanapun aktivitas Gunung Kelud dengan segala pernak perniknya menjadi salah satu obyek wisata unggulan di Kabupaten Kediri.
Masuk Terowongan Lokasi Larung Sesaji ini sebenarnya tidak jauh, hanya sekitar 500 meter. Namun karena medannya naik turun,maka bisa membuat kaki kepenatan. Apalagi iring-iringan peserta upacara harus memasuki sebuah terowongan Gresco 2 yang diameternya sekitar 4 meter. Menariknya, kondisi terowongan
yang gelap gulita itu hanya dihiasi lampu petromaks dan lilin pada saat pelaksanaan larung sesaji. Terowongan yang membelah lereng Gunung Kelud ini panjangnya sekitar 200 meter. Kondisinya sangat mirip Tunnel Migbay Los Angeles yang cukup popular karena pernah menjadi ikon event pembuatan film King Kong produksi Hollywood. Begitu keluar dari terowongan ini, maka terlihatlah pemandangan indah kawah Gunung Kelud yang berwarna kehijau-hijauan. Air kawah seluas 12 Ha posisinya diapit 3 Gunung yakni Gunung Kelud, Gajah mungkur dan Sumbing begitu indah dan memesona. Pintu keluar terowongan menggunakan jalan setapak di atas tanah keras bebatuan, dengan menuruni tangga trapping beton kira kira 100 meter. Yang menarik, ketika kita memasuki bibir kawah Gunung Kelud peserta Larung Sesaji tidak boleh menggunakan alas kaki.
Maksud Larung Sesaji ini sebagai tanda rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat Lereng Gunung Kelud tepatnya berbagai sumber)
Kawasan Gunung Kelud terletak kurang lebih 35 Km dari kota Kediri atau 120 Km dari ibukota Provinsi Jawa Timur Surabaya. Termasuk gunung api aktif dengan ketinggian 1.730 meter di atas permukaan laut (mdpl). Panorama pegunungan indah yang alami dan udara sejuk membuat wisatawan kerasan berlama-lama di
kawasan ini.
Obyek Wisata Kelud sangat cocok bagi mereka yang berjiwa petualangan (adventure). Di antara panjat tebing, lintas alam, camping ground. Bahkan baru-baru ini dijadikan check point rally mobil nasional 2006. Jalan menuju Gunung Kelud sudah hotmiks dan dapat dilalui segala jenis kendaraan. Akan tetapi sebaiknya jangan menggunakan mobil sedan, karena 3 km menjelang masuk pintu gerbang terdapat tanjakan yang cukup terjal,
yakni kemiringan 40 derajat yang panjangnya sekitar 100 meter. Gunung Kelud hingga kini telah mengalami 28 kali letusan yang tercatat mulai tahun 1000 sampai 1990.